KISAH

Ada suatu kisah …seorang pemuda yang begitu terpukul dengan realita takdir. Ia merasa begitu beratnya hidup seakan-akan dunia telah menghimpitnya tanpa ampun…dunia bak neraka…begitu pedih,berat penuh luka….
Dengan penuh keputus asaan pemuda itu berjalan gontai menuju ke sebuah gubuk di ujung bukit. Ia menemui kakeknya, seorang tua yang bijaksana dan penuh hikmah.
Melihat keadaan pemuda itu, yang pucat ,sayu dan penuh rona kesedihan. Lelaki tua itu tersenyum penuh makna, ia mengetahui betapa berat beban hidup yang dihadapi seorang pemuda didepannya. “Apa yang terjadi,nak?” Tanya kakek tua itu lembut. Pemuda itu tak sanggup menahan cucuran air matanya..”Aku hidup tiada arti….Semua yang kumiliki musnah….?” Begitu banyak kata-kata meluncur dari bibir sang pemuda yang begitu rapuh dan tanpa daya. Sang kakek tua itu mendengar penuh perhatian tanpa berkomentar sedikit pun . Setelah itu ia pun masuk ke dapur membawa segenggam garam dan segelas air, lalu ia mengaduk segenggam garam itu dalam segelas air, lalu ia berucap “ minumlah,..” tanpa pikir panjang pemuda itu meminumnya “UKheek…pahit!” kakek itu tersenyum. Lalu kakek tua itu mengajak pemuda itu ketelaga didekat gubuknya…lalu ia tabur garam kedalam telaga itu..” minumlah,nak” ucap kakek itu. Pemuda itu lali meneguk air telaga itu “ manis,kek”.
Kakek menatap pemuda itu “ itulah kehidupan,nak. Pahitnya kehidupan itu karena hati kita terlalu sempit menyikapi hidup ini. Hati kita terlalu sempit dan picik sehingga apaun yang terjadi dalam hidup ini begitu pahit dan menyakitkan seperti garam yang dimasukan ke dalam segelas air…begitu pahit dan getir. Kita harus melapangkan hati kita..seperti telaga ini. Ia mampu menetralkan asin, pahit dan getirnya garam, ia mampu melarutkan itu semua sehingga engkau rasakan betapa manis air telaga ini. Lapangkanlah hatimu, maka kau akan mendapatkan betapa manisnya hidup ini”

sumber : http://www.hi5.com/friend/profile/displayProfile.do?userid=344874056

%d blogger menyukai ini: