Akankah DPR mendatang bebas korupsi [?]

Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan anggota DPR/DPRD saat ini, menimbulkan perasaan miris dan keraguan dalam menentukan pilihan wakil rakyat yang akan duduk di DPR pada saat Pemilu tanggal 9 April 2009 nanti. Pertanyaan yang mungkin paling sering muncul di benak saya, kamu dan kita semua / rakyat adalah Apakah kelak wakil rakyat terpilih pada saat Pemilu tanggal 9 April 2009 nanti akan bebas dari korupsi [?]

Sedikit gambaran bahwa keraguan rakyat dalam menentukan pilihannya itu memang ada, suatu saat Julak pergi ke tukang cukur pinggir jalan dibawah pohon akasia dekat tempat tinggal Julak untuk mencukur rambut yang sudah mulai tidak enak di pandang mata dan gatal karena sudah agak panjang, sambil melaksanakan aksinya si tukang cukur iseng membuka dialog dengan pertanyaan,

…. Kira-kira siapa ya pak yang dipilih?” tanya si tukuang.

maksudnya wakil rakyat di pilih dalam Pemilu yang akan datang, seraya dia melihat poster, spanduk dan baliho caleg dari berbagai parpol peserta Pemilu 2009 yang bertebaran di pinggir jalan dan pohon-pohon penghijauan kota dekat dia melakukan prakteknya, belum sempat saya menjawab, si tukang cukur langsung membuat pernyataan

” …kalau saya Pemilu sekarang tetap masuk bilik suara, tetapi saya tidak ikut nyontreng, tetapi kalau Pilpres nanti saya sudah ada pilihan yang terbaik …”

selanjutnya Julak balik bertanya,”…kenapa jadi nggak memilih?”

Dengan enteng si tukang cukur menjawab : “… saya meragukan caleg-caleg yang ada ini, contohnya aja yang duduk sekarang banyak yang korupsi”

“maaf bukan saya bermaksud merendahkan orang lain, … caleg-caleg yang ada sekarang tidak berbobot, ada yang asalnya dari tukang ojek, tukang cukur seperti saya, …mikirin hidupnya sendiri susah apalagi mikirin rakyat…, belum lagi dia menghitung hutangnya untuk biaya pen-caleg-annya dan harus dibayar,… dari mana dia bisa mengembalikan? Kalau nggak di barengi dengan usaha-usahanya kelak kalau sudah duduk? ” lanjut si tukang cukur.

…… fakta terbaru hasil riset yang dilaksanakan FORMAFFI (Forum Peduli Parlemen Indonesia), sebagaimana dimuat oleh SKH Radar Banjarmasin (18/03/2009), DPR MENDATANG DIRAMALKAN TETAP MARAK KORUPSI; berikut kutipan beritanya :

Ini ramalan wajah suram DPR. Para wakil rakyat yang akan duduk di parlemen hasil pemilu tahun ini diramal tetap penuh dengan aroma korupsi. Prediksi itu hasil riset Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi). Dalam riset itu terungkap, di antara 38 partai politik nasional peserta Pemilu 2009, hanya delapan yang memberikan dukungan finansial kepada para calon anggota legislatifnya. Sebagian besar parpol cenderung menyerahkan pembiayaan kampanye kepada caleg masing-masing. Mereka harus berjuang dengan biaya sendiri agar terpilih sebagai anggota legislatif. “Implikasinya nanti, kebersihan mereka dari korupsi sangat diragukan. Sebab, uang yang dikeluarkan juga sudah sangat banyak,” ujar Koordinator Formappi Sebastian Salang dalam launching hasil risetnya di Hotel Millenium, Jakarta, kemarin (17/3). Selain itu, kampanye swadaya seperti itu tentu berimplikasi pada lemahnya kontrol partai politik terhadap para caleg. Hubungan parpol dan caleg akan timpang. “Parpol menjadi tidak berdaya. Di sisi lain, caleg yang merasa finansialnya lebih kuat ketimbang pengurus induk akan cenderung mendiktekan pendapatnya,” tegasnya. Riset Formappi itu dilakukan melalui wawancara dengan 34 petinggi parpol nasional. Pengumpulan data pada penelitian yang dilaksanakan mulai 21 Januari-19 Februari 2009 tersebut juga dilakukan melalui pengumpulan dokumen partai. Di bagian lain, riset tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar partai politik tidak siap mengikuti Pemilu 2009. Hanya 16 parpol yang dinilai siap mengikuti Pemilu 2009. “Sisanya, dari kriteria yang kami susun, mereka ternyata masih tidak siap,” ungkap Sebastian. Di antara 16 partai tersebut, ada Partai Demokrat, Partai Hanura, dan Partai Gerindra. Ketiganya dianggap memiliki strategi yang lengkap, termasuk memadukan dukungan finansial partai dan caleg. Ada juga PDI Perjuangan dan Partai Republika Nusantara yang masuk kategori kedua yang memiliki strategi menyeluruh, tapi tanpa dukungan finansial dari partai. Masuk pula Partai Golkar, PKS, PAN, dan PIS yang memiliki strategi menyeluruh tanpa mengandalkan tokoh. Di tempat yang sama, pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris menyatakan, kondisi tersebut makin menunjukkan bahwa sebagian besar parpol sebenarnya tidak siap membentuk wakil-wakil rakyat yang bertanggung jawab. “Orientasi mereka hanya mengirimkan sebanyak-banyaknya wakil di parlemen, tanpa berpikir bagaimana membentuk keadaan yang lebih baik,” tegasnya. (dyn)

😦😦😦

Satu Tanggapan

  1. Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang,
    lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!

    Uang Dihamburkan…
    Rakyat dilenakan…
    Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
    Rakyat diminta menyukseskannya.
    Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
    DEMOKRASI untuk SIAPA?

    Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!

    Halqah Islam & Peradaban
    –mewujudkan rahmat untuk semua–
    “Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
    Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam

    Dengan Pembicara:
    Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
    KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)

    yang insyaAllah akan diadakan pada:
    Kamis, 26 Maret 2009
    08.00 – 12.00 WIB
    Gedung Al Irsyad

    CP: Humas HTI Soloraya
    HM. Sholahudin SE, M.Si.
    081802502555

    Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
    hizbut-tahrir.or.id

    Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
    Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
    Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)

    Wassalamu alaikum wr. wb.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: